Mojokerto 16 Mei 2026 – Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang dimulai dari ketertarikan sederhana, berakhir pada sebuah pencapaian yang mengubah hidup. Aprilia Firda Cahyani, santri asal Curah Malang, Sumobito, Jombang, resmi menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada tahun 2026. Langkah yang ia mulai sejak duduk di bangku kelas VIII tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga, semangat teman seperjuangan, serta tekad kuat untuk tidak sekadar menghafal, tetapi juga menjaga istiqamah.
“Awalnya, saya termotivasi karena melihat acara hafizh qur’an di televisi, bagaimana para penghafal Al-Qur’an bisa menghafal al quran diusia muda . Saya ingin seperti itu,” ungkap Aprilia. Selama proses, ia tidak berjalan sendiri. Doa dan dukungan dari ayah, ibu, serta teman-teman pesantren menjadi penyemangat utama di setiap tahapannya. Metode yang ia gunakan pun terbilang sederhana namun konsisten: membaca ayat berulang-ulang hingga lancar, baru kemudian dihafalkan secara bertahap.
Namun, jalan menuju khatam tidak selalu mulus. Ujian terberat datang justru di pertengahan perjalanan. Saat acara wisuda pencapaian 20 juz, Aprilia harus menerima kabar bahwa ayahnya mengalami kecelakaan. Peristiwa itu sempat menggoyahkan emosinya, namun justru menguatkan komitmennya. “Rasa malas harus kulawan, karena aku selalu ingat tujuan awal mengapa aku mulai menghafal,” tuturnya. Ia meyakini bahwa menjaga konsistensi di tengah kelelahan atau kejenuhan adalah kunci keberhasilan.
Setelah menuntaskan hafalan, Aprilia menyadari bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai. “Cara menjaga hafalan setelah khatam ya dibaca terus dan diingat. Jangan pernah berhenti saat murojaah, selalu berpikir optimis bahwa kita pasti bisa menjaganya,” katanya. Di antara sekian banyak pengalaman, momen yang paling membekas adalah ujian kenaikan marhalah (UKM) di hadapan Gus Afif, yang menjadi titik puncak dari seluruh proses belajarnya.
Menutup perbincangan, Aprilia menitipkan pesan khusus bagi generasi muda. “Semoga pembaca bisa termotivasi. Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar menghafal, tapi harus bisa istiqamah. Untuk kalian yang ingin memulai, semangat ya! Tetap percaya diri, kalian pasti bisa,” pesannya dengan tegas.
Kisah Aprilia Firda Cahyani membuktikan bahwa hafalan Al-Qur’an tidak hanya soal kapasitas memori, tetapi juga ketangguhan hati, dukungan lingkungan, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang diiringi niat baik akan menemukan jalannya. Di usianya yang masih muda, ia telah meletakkan fondasi kuat untuk menjadi penjaga Al-Qur’an yang tidak hanya hafal, tetapi juga istiqamah.
Oleh Tim Redaksi : Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA.