Menghafal 30 Juz Dalam 3,5 Tahun – Siswa Program Tahfidz MA TRENDIS Salafiyah Syafi’iyah

 

Mojokerto 27 September 2025- Di usia yang masih duduk di bangku kelas X, Achmad Fahmi Aziz telah menyelesaikan satu pencapaian luar biasa: menghafal seluruh isi Al-Qur’an—30 juz—dalam waktu 3 tahun 6 bulan. Perjalanan spiritualnya dimulai sejak kelas 7, didorong oleh kerinduan untuk membanggakan orang tua, menjadi anak shalih, dan meyakini bahwa Al-Qur’an mampu mencerdaskan otak.Kini, Fahmi bukan hanya seorang pelajar biasa, tapi juga seorang hafiz muda yang menjadi teladan di lingkungan sekolahnya. Tim Jurnal Siswa berkesempatan mewawancarainya untuk mengungkap kisah di balik keberhasilannya.

Awal yang Sederhana, Niat yang Luar Biasa

“Awalnya saya ingin membanggakan orang tua,” ujar Fahmi dengan senyum hangat. “Saya juga ingin jadi anak shalih dan percaya bahwa menghafal Al-Qur’an bisa mencerdaskan pikiran.”

Niat sederhana itu menjadi fondasi kuat yang membawanya bertahan selama lebih dari tiga tahun. Meski usianya masih belia saat memulai, Fahmi tak pernah meremehkan tantangan yang menanti.

Menyeimbangkan Tahfiz dan Tugas Sekolah

Menjadi pelajar sekaligus penjaga Al-Qur’an bukanlah hal mudah. Fahmi mengatur waktunya dengan disiplin tinggi. Ia memilih malam hari sebagai waktu utama untuk menghafal, karena menurutnya, “otak lebih tenang dan fokus.”

“Pagi hari, saya luangkan 30 menit untuk refreshing hafalan, lalu fokus belajar pelajaran sekolah,” jelasnya.

Strategi ini membantunya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan spiritual—dua hal yang ia anggap sama pentingnya.

Melawan Rasa Malas dengan Ingat pada Orang Tua

Tantangan terbesar yang dihadapi Fahmi bukanlah kesulitan menghafal, melainkan rasa malas yang kerap datang menggoda. Namun, ia punya cara ampuh untuk melawannya.

“Saya selalu mengingat wajah orang tua yang sudah tua. Mereka berharap saya jadi anak yang shalih. Itu yang bikin saya terus maju,” katanya.

Selain itu, Fahmi juga menetapkan target harian dan mingguan agar tidak kehilangan arah. “Kalau ada target, kita jadi punya alasan untuk bangkit lagi,” tambahnya.

Dukungan yang Menjadi Penopang

Perjalanan Fahmi tidak dilalui sendirian. Ia menyebut orang tua dan guru-gurunya sebagai sosok paling berpengaruh dalam proses tahfiznya.

“Orang tua selalu mendoakan dan memberi semangat. Guru-guru di pesantren juga sabar membimbing, meski kadang saya dimarahi kalau tidak lancar saat setoran,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Salah satu momen paling berkesan—sekaligus paling berat—adalah ketika ia dimarahi oleh Kyai saat setoran hafalan tidak lancar. “Saat itu saya sampai down. Tapi justru itu yang bikin saya lebih serius dan tidak main-main lagi,” kenangnya.

Menjaga Hafalan dengan Sistem Muroja’ah Terstruktur

Setelah menyelesaikan 30 juz, tantangan baru muncul: menjaga hafalan agar tidak lupa. Fahmi memiliki metode khusus untuk itu.

“Saya bagi hafalan jadi tiga bagian: sangat lancar, lancar, dan tidak lancar. Setiap hari saya muroja’ah sesuai kategori itu,” jelasnya.

Dengan sistem ini, ia memastikan tidak ada ayat yang terabaikan, sekaligus menjaga kualitas bacaan dan ingatan jangka panjang.

 

Pesan untuk Teman Sebaya

Bagi teman-teman yang ingin mulai menghafal Al-Qur’an, Fahmi punya dua nasihat utama:

“Carilah pertemanan yang baik, karena lingkungan sangat memengaruhi semangat kita. Dan cari partner semaan yang tepat—itu kunci utama agar konsisten.”

Ia meyakini bahwa perjalanan tahfiz bukan hanya soal kemampuan menghafal, tapi juga soal komitmen, lingkungan, dan niat yang tulus.

Harapan untuk Madrasah dan Masa Depan

Fahmi juga menyampaikan harapannya kepada MA Salafiyah Syafi’iyah:
“Semoga madrasah kita terus menjadi tempat yang baik, dan bisa mengembangkan program tahfiz yang lebih terstruktur agar lebih banyak siswa yang terinspirasi menghafal Al-Qur’an.”

Saat ditanya tentang perasaannya ketika sampai di ayat terakhir dari juz 30, matanya berbinar.
“Saya senang, terharu, dan bangga—bukan karena diri sendiri, tapi karena akhirnya bisa menyelesaikan amanah ini untuk orang tua dan Allah SWT.

Kisah Achmad Fahmi Aziz mengingatkan kita bahwa keberhasilan lahir dari niat tulus, disiplin, dan dukungan lingkungan yang positif. Di tengah hiruk-pikuk dunia remaja, ia memilih jalan yang menuntut kesabaran dan ketekunan—dan kini, ia menuai buah manis dari perjuangannya.

Semoga kisahnya menjadi cahaya yang menginspirasi lebih banyak siswa untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati.

Oleh:Tim Redaksi-Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *