Majalisil Baroroh-Santri yang Menyelesaikan Hafalan Al-Qur’an dengan Air Mata, Doa, dan Istiqamah

Mojokerto 11 Oktober 2025-Di tengah kesibukan remaja seusianya, Majalisil Baroroh dari Dusun Kembang Kuning, Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang memilih jalan berbeda: menghafal Al-Qur’an 30 juz, kini dikenal sebagai hafidz pertama dalam keluarganya—sebuah pencapaian yang diraihnya setelah enam tahun perjuangan tanpa henti.

Majalisil mulai menghafal Al-Qur’an pada tahun 2018, tepat saat ia duduk di kelas X Madrasah Aliyah. “Saya berasal dari keluarga yang berlatar belakang islam. Orang tua selalu menanamkan cinta Al-Qur’an sejak kecil. Tapi saya yang pertama memutuskan untuk menghafalnya secara utuh,” ujarnya dengan penuh kerendahan hati.

Perjalanan itu tidak mudah. Dibutuhkan komitmen luar biasa untuk menyeimbangkan tugas sekolah dan target hafalan harian. Saat masih sekolah, Majalisil berusaha menyetor hafalan setiap hari, lalu langsung mengulang (muroja’ah) hafalan lama agar tidak lupa. Namun, tantangan justru muncul setelah lulus. “Waktu jadi lebih sulit diatur. Jadi saya buat jadwal sendiri: mulai persiapan setoran dari Ashar sampai malam. Selebihnya, saya nderes—mengulang hafalan lama secara intensif,” jelasnya.

Metode hafalannya pun terstruktur. Ia membaca ayat yang akan dihafal dengan membaca binadhor sebanyak tiga kali, lalu membagi satu halaman menjadi dua bagian. Setengah halaman atas dihafal dan dilancarkan terlebih dahulu, baru kemudian setengah bawah. Setelah keduanya lancar, barulah disatukan dan disetorkan ke pembimbing.

Namun, ujian terberat datang bukan dari kesulitan menghafal, melainkan dari kehilangan. “Saat ayah meninggal, saya benar-benar down. Saya bimbang—apakah harus lanjut atau tidak? Rasanya kosong,” kenang Majalis. Di tengah keraguan itu, ia mendapat pencerahan dari nasihat guru dan doa orang tuanya yang masih hidup. “Mereka bilang, justru di saat seperti ini, Al-Qur’an harus jadi tempat kembali. Dan itu menyadarkan saya.”

Yang membuat Majalis tetap istiqamah meski rasa malas datang? “Saya merasa punya tanggungan. Juga, saya mudah terinspirasi oleh orang lain—melihat teman yang rajin, langsung semangat lagi. Meski repot, saya tetap usahakan konsisten.”

Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika di kelas X, ia pernah menjadi juara tahfidz seangkatan. “Tapi momen paling haru tentu saat khatam. Di ayat terakhir, saya menangis. Senang, terharu, tapi juga sedih—karena ayah tidak bisa menyaksikan hari itu.”

Kini, setelah resmi menyelesaikan hafalan, Majalisil tidak berhenti. Ia terus menjaga hafalannya dengan sistem yang rapi: Juz 1–10 di muroja’ah bersama teman dalam bentuk sema’an , sedangkan Juz 11–30 ia nderes sendiri.

Untuk para pembaca, Majalisil berpesan:
“Harus bisa istiqamah dalam muroja’ah. Sedikit pun waktumu, sempatkanlah untuk mengulang hafalan. Jangan tunggu ‘ada waktu’—karena waktu itu kita yang atur.”

Ia juga menyampaikan pesan khusus untuk adik-adik di madrasah:
“Semangat selagi masih muda! Jangan sampai menyesal nanti. Saya dulu kurang serius, dan sekarang rasanya seperti ‘kalang kabut’ sendiri saat dewasa. Manfaatkan masa muda untuk beribadah dan menghafal—karena itu investasi akhirat yang tak ternilai.”

Kisah Majalisil Baroroh adalah bukti nyata bahwa keistiqamahan, dukungan keluarga, dan kepasrahan kepada Allah mampu mengantarkan seseorang melewati duka, keraguan, dan kelelahan—hingga akhirnya sampai di garis akhir yang penuh berkah.

Semoga hafalannya senantiasa dijaga, dan kisahnya menjadi cahaya bagi generasi muda yang ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati.

Oleh Tim Redaksi:Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *