Mojokerto,16 Mei 2026 – Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang dimulai sejak duduk di bangku kelas VII akhirnya mencapai puncak bagi Salsabila Raikha. Santri asal Mojoagung, Jombang, ini resmi menuntaskan hafalan 30 juz pada Desember 2025. Langkahnya bermula dari ketaatan pada perintah orang tua sebagai bentuk bakti, namun bertransformasi menjadi perjalanan penuh kebahagiaan yang didukung erat oleh keluarga dan rekan seperjuangan.
“Awalnya, saya menghafal karena disuruh orang tua. Sebagai anak, saya merasa wajib menuruti dan menjalankannya sampai selesai,” ungkap Salsabila. Namun, tekanan awal itu perlahan berubah menjadi kenyamanan. Dukungan moral dari ayah, ibu, saudara-saudaranya yang juga sedang menghafal, serta semangat dari teman-teman satu lingkaran menjadi bahan bakar yang membuatnya tetap teguh. Menariknya, Salsabila mengaku tidak pernah merasakan hambatan berarti selama proses. “Selama menghafal, saya cenderung bahagia saja. Saya bawa dengan enjoy,” tambahnya.
Meski fokus pada hafalan, Salsabila tidak mengabaikan tanggung jawab akademiknya. Ia menerapkan pola manajemen waktu yang sederhana namun disiplin: menjadikan hafalan sebagai prioritas utama, sementara pelajaran sekolah dipelajari secara intensif saat menjelang ujian atau tugas penting. “Kalau ada waktu luang, saya sempatkan belajar. Tapi intinya, hafalan tetap yang diutamakan,” jelasnya. Pendekatan ini membuktikan bahwa keseimbangan antara pendidikan formal dan tahfidz dapat terjalin selama ada kejelasan skala prioritas.
Ketika lafal terakhir ayat Al-Qur’an berhasil dihafal pada Desember 2025, perasaan lega langsung menyergap. Namun, di balik kegembiraan itu, muncul kesadaran baru tentang tanggung jawab yang lebih berat. “Lega pastinya ada, tapi sempat bingung juga bagaimana cara murojaah ke depannya. Soalnya, setelah khatam, hafalan itu sudah menjadi tanggungan yang harus dijaga,” kenangnya.
Untuk menjaga keistiqamahan, Salsabila menargetkan murojaah sebanyak lima juz setiap hari. Ia menyadari bahwa menghafal Al-Qur’an bukanlah proses yang mudah, sehingga rasa “takut hafalan hilang” justru menjadi pengingat sekaligus pendorong agar tetap disiplin. “Saya istiqamah karena sadar menghafal itu tidak mudah. Kalau tidak dijaga, hafalan bisa cepat lepas,” tegasnya.
Kisah Salsabila Raikha menjadi bukti nyata bahwa ketaatan pada orang tua, didukung lingkungan yang positif dan niat yang lurus, dapat mengantarkan seorang santri pada kemuliaan Al-Qur’an. Lebih dari sekadar pencapaian, khatam baginya adalah awal dari komitmen seumur hidup: menjaga setiap huruf yang telah diamanahkan. Semoga langkahnya menginspirasi generasi muda untuk tidak hanya mengejar target, tetapi juga istikamah dalam merawatnya.
Oleh Tim Redaksi : Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA