Mojokerto 16 Mei 2026 – Perjalanan lima tahun penuh kesabaran dan istikamah akhirnya berbuah manis. Faradila Nur Az Zahra, santri asal Ngrowo, Bangsal, Mojokerto, resmi menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada 15 Januari 2026. Pencapaian yang diraihnya sejak duduk di bangku kelas VIII tersebut tidak lepas dari tekad kuat untuk membahagiakan kedua orang tua, menjadi versi terbaik dari dirinya, serta mendekatkan diri kepada Allah melalui mentadaburi firman-Nya.
Bagi Faradila, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar target atau rutinitas pesantren. “Saya ingin membanggakan kedua orang tua dan mendekatkan diri kepada Allah dengan mentadaburi kalam-Nya,” ungkapnya. Dukungan penuh dari ayah dan ibu menjadi fondasi utama yang menjaganya tetap teguh di tengah perjalanan panjang ini.
Memulai hafalan pada tahun 2021, Faradila tidak serta-merta menghafal secara mentah. Ia menerapkan metode bertahap: memulai dengan tahsin (memperbaiki tajwid), memahami makna ayat, serta mempelajari karakteristik setiap surah. Setelah itu, ia mengulang hafalan secara berulang dengan teknik buka-tutup mushaf. “Hafalan memang jadi prioritas utama. Kalau ada waktu luang, baru saya sempatkan untuk pelajaran sekolah. Saya berusaha menyeimbangkan keduanya sesuai kondisi,” jelasnya.
Tidak semua hari berjalan mulus. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah melawan rasa overthinking dan menjaga konsistensi di tengah kelelahan. Untuk tetap termotivasi, Faradila selalu mengingat tujuan awal hafalannya dan merujuk pada pesan Imam Syafi’i: “Berlelah-lelahlah dahulu, karena manisnya kehidupan terasa setelah manisnya berjuang.” Ia juga menerapkan strategi sederhana seperti istirahat singkat (refreshing) dan memberi diri sendiri self-reward saat merasa jenuh.
Ketika lafal terakhir ayat Al-Qur’an selesai dihafal pada pertengahan Januari 2026, Faradila hanya bisa terkesima. “Wah, kok bisa? Rasanya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur,” kenangnya dengan haru. Momen tersebut menjadi bukti nyata bahwa usaha yang diiringi doa dan kesabaran tidak pernah mengkhianati hasil.
Menyelesaikan hafalan bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru: menjaga hafalan. Faradila menekankan pentingnya muroja’ah rutin, kesabaran, dan ketelatenan. “Kalau malas, istirahat sebentar, lalu lanjut lagi. Yang penting jangan sampai hafalan terbengkalai,” pesannya. Ia juga menitipkan harapan bagi generasi muda, khususnya pelajar dan santri. “Jangan terlalu overthinking dengan masa depan. Jika kamu berikhtiar dan berdoa, Allah pasti akan memberikan jalan terbaik. Teruslah tumbuh, tetap beradab, semoga kita bisa melahirkan generasi yang berakhlakul karimah.”
Perjalanan Faradila Nur Az Zahra menjadi pengingat nyata bahwa konsistensi, niat yang lurus, dan dukungan keluarga adalah kunci meraih kemuliaan Al-Qur’an. Di usianya yang masih belia, ia telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih selangkah demi selangkah, dengan iman sebagai kompas dan Al-Qur’an sebagai pedoman.
Oleh Tim Redaksi : Nabila Hans XI MIPA dan Aiasyah N XI MIPA.