“4 Tahun, 30 Juz , 1 Niat Tulus: Perjalanan Nala Mahya Menjadi Hafizah di Tengah Kesibukan Sekolah”

 

 

Mojokerto 04 Oktober 2025 – Di tengah kesibukan akademik dan dinamika remaja seusianya, Nala Mahya Kamiliyyah, siswi kelas 12 DCM Madrasah Aliyah di Mojokerto, berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz—sebuah pencapaian luar biasa yang patut diapresiasi. Perjalanan spiritualnya dimulai sejak kelas 7 SMP dan rampung tepat saat ia duduk di kelas 11. Kini, Nala tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga sosok inspiratif bagi teman-teman sebayanya.

 Motivasi dari Hati yang Tulus

Nala mengungkapkan bahwa motivasi awalnya menghafal Al-Qur’an sangat sederhana namun penuh makna: “Saya ingin membanggakan orang tua dan ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an.” Dorongan dari hati yang tulus ini menjadi fondasi kuat baginya untuk terus melangkah, meski tantangan datang silih berganti.

Dukungan besar datang dari kedua orang tuanya. “Mereka selalu mendorong saya, memberi semangat, dan menciptakan suasana yang kondusif untuk menghafal,” ujarnya dengan penuh syukur.

Menyeimbangkan Akademik Dan Hafalan

Menghafal Al-Qur’an bukan berarti mengesampingkan pendidikan formal. Nala memiliki cara cerdas dalam membagi waktunya. Setiap hari, ia menyisihkan waktu Subuh untuk nderes(mengulang hafalan), lalu berangkat sekolah seperti biasa, dan melanjutkan nderes kembali di malam hari. “Meski sibuk, saya usahakan tetap muroja’ah setiap hari. Karena kalau sampai bolong, hafalan bisa cepat lupa,” katanya.

Metode yang ia gunakan pun terbilang konsisten: membaca dengan tartil, lalu menghafal per ayat hingga menyelesaikan satu surah. Proses ini dijalani dengan sabar selama empat tahun—dari kelas 7 hingga kelas 11.

 Menghadapi Tantangan dengan Pikiran Positif

Tidak semua jalan mulus. Nala mengakui bahwa tantangan terbesarnya bukan hanya soal waktu, tetapi juga masalah pertemanan dan kesehatan. “Ada masa-masa di mana saya merasa lelah, sakit, atau terganggu oleh dinamika pertemanan,” ungkapnya jujur. Namun, ia memilih untuk tidak menyerah. “Saya selalu berusaha berpikir positif dan mengingat tujuan awal saya: dekat dengan Al-Qur’an.”

Kunci lain yang membuatnya tetap konsisten adalah komitmen pribadi. “Sesibuk apa pun, saya usahakan tetap muroja’ah hari itu juga. Karena kalau menunda, malas akan datang berkali-kali.”

 Momen Paling Berkesan dan Harapan ke Depan

Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika ia mengikuti lomba tahfiz dan saat setor hafalan berjalan lancar tanpa hambatan. “Rasanya seperti semua usaha selama ini terbayar,” ujarnya tersenyum.

Saat mencapai ayat terakhir dari juz 30, Nala merasakan kebahagiaan luar biasa. “Saya sangat senang, dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak membiarkan hafalan ini hilang.”

Kini, meski sudah khatam, Nala tidak berhenti di situ. Ia berkomitmen untuk terus menjaga hafalannya dengan target muroja’ah satu kali khatam setiap minggu. “Al-Qur’an itu amanah. Saya harus menjaganya sebaik-baiknya.”

 Pesan untuk Sesama dan Madrasah

Untuk teman-teman sebaya dan pembaca yang sedang berjuang dalam menghafal Al-Qur’an, Nala berpesan: “Jangan pernah menyerah. Selalu optimis dan yakin bahwa Allah akan memudahkan jalan bagi siapa yang ikhlas. Semoga kalian terus semangat!”

Ia juga menyampaikan harapan tulus untuk madrasahnya: “Semoga madrasah kita terus berkembang menjadi lebih baik lagi, menjadi tempat yang semakin mencetak generasi Qur’ani.”

 

Kisah Nala Mahya Kamiliyyah adalah bukti nyata bahwa usia muda bukan penghalang untuk meraih prestasi spiritual. Dengan niat tulus, dukungan keluarga, disiplin waktu, dan keteguhan hati, ia membuktikan bahwa Al-Qur’an bisa menjadi bagian hidup sehari-hari—bukan hanya hafalan, tapi juga pedoman dan teman setia.

Semoga kisahnya menginspirasi lebih banyak remaja untuk mencintai, menghafal, dan mengamalkan firman Allah SWT.

Oleh : Tim Redaksi- Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *