Mojokerto 04 Oktober 2025 – Di tengah kesibukan akademik kelas 12, seorang santriwati muda dari Balongbendo, Sidoarjo, berhasil menorehkan prestasi luar biasa: menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Namanya Adinda FatimatuZ Zahro, siswi kelas 12 program tahfidz MA TRENDIS SALAFIYAH SYAFIIYAH. Yang membedakannya? Ia memulai perjalanan ini bukan karena paksaan, melainkan atas kemauan sendiri—sebuah tekad yang lahir dari hati yang tulus ingin dekat dengan firman Allah SWT.
Awal Perjalanan: Kemauan Sendiri yang Menuntun
Berbeda dengan banyak penghafal Al-Qur’an yang mulai karena arahan orang tua atau guru, Adinda mengaku bahwa motivasi awalnya murni datang dari dirinya sendiri. “Saya memang ingin menghafal Al-Qur’an. Tidak ada yang menyuruh, hanya keinginan pribadi,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Meski demikian, selama proses menghafal, orang tua dan dirinya sendiri menjadi dua pilar utama yang saling mendukung. “Orang tua selalu memberi semangat, tapi yang paling penting adalah saya tidak menyerah pada diri sendiri,” tambahnya.
Empat Setengah Tahun Perjuangan, Dimulai Sejak Kelas 2 MTs
Adinda memulai hafalannya saat duduk di kelas 2 Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan berhasil menyelesaikan seluruh 30 juz tepat di kelas 12 Madrasah Aliyah (MA)—sebuah perjalanan panjang selama 4,5 tahun.
Untuk menyeimbangkan antara tugas sekolah dan hafalan, ia menerapkan manajemen waktu yang fleksibel namun disiplin. “Kalau tidak ada ulangan, saya fokus menghafal setelah pulang sekolah. Tapi kalau besok ada ulangan, pagi hari saya belajar dulu,” jelasnya.
Metode Hafalan yang Terstruktur
Dalam menghafal, Adinda menggunakan metode yang sistematis:
“Saya baca satu halaman berulang-ulang sampai lancar. Lalu, halaman itu saya bagi jadi beberapa bagian—misalnya blok 1, 2, 3. Saya hafalkan per blok, lalu satukan semuanya dan ulang dari awal.”
Metode ini membuat hafalannya tidak hanya cepat melekat, tetapi juga lebih mudah diingat dalam jangka panjang.
Tantangan Tak Terelakkan: Sakit dan Konflik Pertemanan
Perjalanan menghafal Al-Qur’an tak selalu mulus. Adinda mengungkapkan bahwa tantangan terbesarnya adalah saat jatuh sakit dan menghadapi masalah pertemanan. “Ada masa di mana saya merasa lelah secara fisik dan emosional,” akunya.
Namun, ia punya cara khas untuk menghadapinya: “Saya meminta pertolongan kepada Allah. Karena saya yakin, hanya dengan pertolongan-Nya, saya bisa melewati semuanya.”
Melawan Rasa Malas dengan Istirahat yang Bijak
Saat rasa malas datang—seperti yang dialami semua orang—Adinda tidak memaksakan diri. Ia memilih istirahat sejenak dan melakukan refreshing terlebih dahulu. “Kalau dipaksakan, malah tidak fokus. Lebih baik rehat dulu, baru lanjut lagi dengan semangat baru,” katanya bijak.
Khatam Bukan Akhir, Tapi Awal dari Muroja’ah
Setelah khatam, Adinda tidak berhenti. Ia terus menjaga hafalannya melalui muroja’ah (pengulangan) yang ia bagi menjadi dua kategori: ayat yang lancar dan ayat yang belum lancar. “Yang belum lancar, saya prioritaskan. Yang sudah lancar, tetap saya ulang agar tidak lupa,” jelasnya.
Perasaan di Ayat Terakhir: Senang dan Lega
Saat sampai di ayat terakhir Al-Qur’an, perasaan yang muncul sederhana namun mendalam: senang dan lega. “Tidak ada euforia berlebihan, tapi hati rasanya tenang. Seperti menyelesaikan sesuatu yang sangat berarti,” ujarnya.
Meski ditanya tentang momen paling berkesan, Adinda justru menjawab dengan kerendahan hati:
“Tidak ada momen spesial. Yang paling berarti adalah dukungan terus-menerus dari orang tua dan guru.”
Pesan untuk Teman-Teman dan Madrasah
Kepada teman-teman yang membaca kisahnya, Adinda berharap:
“Semoga kalian termotivasi dan bisa terinspirasi untuk jadi lebih baik—terutama dalam dekat dengan Al-Qur’an.”
Untuk madrasah tercintanya, ia menyampaikan harapan tulus:
“Semoga madrasah semakin maju, berkembang, dan selaras dengan harapan para siswanya.”
Kisah Adinda FatimatuZ Zahro mengingatkan kita bahwa keberhasilan besar sering lahir dari niat sederhana yang dijaga dengan istiqomah. Tanpa gembar-gembor, tanpa pencarian pujian, ia diam-diam membangun benteng spiritual dalam dirinya—ayat demi ayat, halaman demi halaman.
Di tengah dunia yang serba cepat, kehadiran santri seperti Adinda adalah cahaya yang mengingatkan kita: Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dihafal, dipahami, dan dijadikan pegangan hidup.
Oleh : Tim Redaksi-Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA