Mojokerto 24 Januari 2026 – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, ada sosok santri muda yang memilih jalan sunyi namun penuh cahaya: menghafal Al-Qur’an. Dialah Siti Khoirun Nisa’, santri asal Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada 11 November 2023. Kini, mahasiswi Fakultas Ushuluddin adab dan dakwah Program Studi Psikologi Islam UIN SATU Tulungagung,menjadi inspirasi bagi para santri.
Siti Khoirun Nisa’ menyelesaikan hafalan Al-Qur’an secara utuh (hatam) setelah memulai perjalanannya sejak kelas 7 SMP. Perjalanan selama lebih dari enam tahun itu bukan tanpa tantangan, namun ia berhasil mencapai puncak dengan tekad kuat dan dukungan luar biasa dari keluarga serta guru-gurunya. Bagi Nisa’, pencapaian ini bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren yang kental, Nisa’ dibesarkan dalam keluarga yang sangat mendukung pendidikan agama. Ayah dan ibunya, bersama para guru tahfiz, menjadi pilar utama yang terus mendorongnya saat semangat mulai goyah. “Orang tua dan guru adalah orang-orang yang paling berperan,” ujarnya saat diwawancarai.
Perjalanan tahfiz Nisa’ dimulai ketika ia duduk di bangku kelas 7, di usia yang masih sangat muda. Ia memilih fokus pada hafalan Al-Qur’an sejak dini, meski harus menyeimbangkan dengan tuntutan akademik sekolah. Puncak perjuangannya tiba pada 11 November 2023, saat ia menyelesaikan ayat terakhir dari surah An-Nas—tanda bahwa ia telah hatam 30 juz.
“Saat sampai di ayat terakhir, saya merasa senang, tapi juga bingung. Bingung karena beban justru bertambah. Menjaga hafalan itu jauh lebih sulit daripada menghafalnya,” ungkapnya jujur.
Motivasi awal Nisa’ murni berasal dari dirinya sendiri. “Saya punya tekad kuat untuk menyelesaikannya,” katanya. Namun, yang membuatnya tetap istiqomah adalah kesadaran bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dirinya, tapi juga amanah yang harus dijaga.
Ia juga memiliki harapan besar bagi madrasah tempatnya belajar: “Semoga madrasah semakin berkah, santri-santrinya berkualitas, dan bisa bermanfaat bagi banyak orang.”
Strategi Nisa’ dalam mengelola waktu sangat inspiratif. Ia memprioritaskan tahfiz di luar jam sekolah. “Waktu luang hampir semua saya gunakan untuk Al-Qur’an. Belajar pelajaran sekolah cukup di sekolah saja,” katanya. Metode hafalannya sederhana namun efektif: menghafal secara runtut dari awal surah, lalu terus diulang hingga ayat terakhir benar-benar melekat di hati.
Tantangan terbesarnya? Rasa malas. Namun, ia mengatasinya dengan kembali mengingat tujuan awal. “Fokus sama niat awal. Kalau niatnya lurus, malas pun bisa dikalahkan,” ujarnya.
Untuk menjaga hafalan pasca-hatam, Nisa’ aktif dalam program setoran rutin dan bergabung dengan komunitas tahfiz yang mendukung konsistensinya. “Kesadaran diri sendiri adalah kunci utama,” tegasnya.
Siti menyampaikan pesan penuh makna bagi santri dan pelajar :
“Jangan merasa rendah, karena kamu akan menjadi emas di tempat yang tepat. Kamu akan dihormati dan disegani di tempat kamu bersinar.”
Ia juga mengingatkan agar tidak sombong meski telah mencapai prestasi tinggi. “Lebih baik tampil biasa saja, tapi bermanfaat bagi banyak orang, daripada naik daun karena prestasi lalu lupa diri.”
Terakhir, ia berpesan:
“Sejauh apa pun kamu merantau, jangan lupa pada madrasah yang telah membuatmu berkembang sampai sejauh ini.”
Kisah Siti Khoirun Nisa’ adalah bukti nyata bahwa kesuksesan tidak lahir dari hal besar, melainkan dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Dengan kerendahan hati, disiplin, dan kesadaran diri, ia membuktikan bahwa generasi muda hari ini masih mampu menjaga warisan suci umat. Semoga kisahnya menjadi obor semangat bagi santri-santri lain untuk terus menghafal, menjaga, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh Tim Redaksi: Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA