Asmara Sandya Daniah, Santri Asal Jombang yang Hatam 30 Juz

Mojokerto 24 Januari 2026-Di tengah kesibukan pelajar masa kini yang diserbu gawai dan hiburan instan, ada sosok santri muda yang memilih jalan yang berbeda dengan penuh ketekunan: menghafal Al-Qur’an. Dialah Asmara Sandya Daniah, santri asal Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada tahun 2025—sebuah pencapaian luar biasa yang lahir dari dukungan keluarga, dan perjuangan selama lima tahun penuh.

Sandya resmi menyelesaikan hafalan Al-Qur’an (hatam) pada 2025, setelah memulai perjalanannya sejak tahun 2020. Baginya, ini bukan sekadar prestasi akademis atau religius, melainkan—sebuah komitmen yang menjadi fondasi semangatnya selama bertahun-tahun.

Kini, Sandya dikenal sebagai santri yang tenang, disiplin, dan penuh rasa syukur. Ia menyebut bahwa orang tua dan guru adalah dua pilar utama yang membuatnya tetap istiqomah. “Tanpa doa dan dorongan mereka, saya mungkin sudah menyerah di tengah jalan,” ujarnya.

Motivasi awalnya memang berasal dari dorongan orang tua, namun berkembang menjadi tekad pribadi untuk menjadi hafizah. Itu menjadi pengingat di setiap malam ketika rasa lelah dan malas datang.

Perjalanan tahfiz Sandya dimulai pada 2020, ketika usianya masih belia. Ia tinggal di Jombang, kota santri yang dikenal sebagai gudangnya pondok pesantren dan ulama. Lingkungan religius ini turut membentuk karakter keagamaannya sejak kecil.

Setiap hari, ia membagi waktu dengan cermat: saat di sekolah, fokus belajar pelajaran umum; selepas pulang, waktunya dikhususkan untuk menghafal Al-Qur’an*. “Saya tidak mencampuradukkan keduanya. Di sekolah, saya jadi siswa biasa. Di pondok, saya jadi santri,” katanya.

Alasan utama Sandya menghafal Al-Qur’an bukan hanya karena ingin dipuji, tapi karena rasa tanggung jawab terhadap janji dan cinta pada firman Allah. “Saya ingin membuktikan bahwa janji itu harus ditepati, apalagi kepada orang yang kita hormati,” ujarnya.

Metode hafalannya tergolong sederhana namun efektif: membaca ayat berulang-ulang sambil membuka dan menutup mushaf hingga hafal tanpa melihat. “Saya ulang sampai lidah ini lancar sendiri, meski kadang butuh puluhan kali,” katanya.

Tantangan terbesar? Dimarahi guru saat hafalan tidak lancar. Namun, justru momen itulah yang paling berkesan baginya. “Saat dimarahi, saya nangis, tapi setelah itu semangat lagi. Itu bentuk kasih sayang guru agar saya tidak menyerah,” kenangnya.

Untuk menjaga konsistensi, Sandya mencari inspirasi dari kisah hafiz lain. “Kalau mulai malas, saya ingat betapa sulitnya dulu. Itu bikin saya kembali semangat.”

Setelah hatam, ia tidak berhenti. Muraja’ah (mengulang hafalan) rutin menjadi kewajiban harian. “Khatam bukan akhir, tapi awal dari tanggung jawab menjaga,” tegasnya.

Menurut Sandya, kunci utama agar istiqomah adalah mengingat kembali kesulitan saat menghafal. “Kalau ingat betapa susahnya dulu, saya jadi malu kalau sekarang malas menjaga,” katanya.

Ia juga menyampaikan doa dan harapan untuk pembaca:
“Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, tetap dalam lindungan Allah, dan diberi keistiqomahan dalam segala hal—terutama dalam menjaga hubungan dengan Al-Qur’an.”

Sebagai penutup, Sandya berbagi kesan mendalam:
“Terima kasih dari sini—dari proses ini—saya akhirnya tahu apa itu sabar dan tabah.”

Kisah Asmara Sandya Daniah adalah bukti nyata bahwa keberhasilan lahir dari niat tulus, dukungan keluarga, dan ketekunan tanpa henti. Di usia muda, ia telah menorehkan amal jariyah yang tak akan pernah putus. Semoga kisahnya menginspirasi generasi muda untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an, tapi juga menghafal, memahami, dan mengamalkannya—dengan sabar, tabah, dan cinta yang tulus.

Oleh Tim Redaksi: Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *