Mojokerto 18 Oktober 2025 – Di balik senyum tenangnya, Sefia Nur Fa’idah,santri asal Puri Mojokerto ini menyimpan perjalanan luar biasa: menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an meski harus kehilangan sosok yang paling menginspirasinya—sang ibu.
Sefia mulai menghafal saat duduk di kelas 8 menjelang naik kelas 9. Awalnya, ia termotivasi oleh orang tuanya, namun semangat itu tumbuh dari dalam dirinya sendiri, terinspirasi dari film Santri Rock n Roll. Sayangnya, di tengah jalan—tepat saat mencapai Surah An-Nisa—ibunya berpulang. “Ibu adalah motivator utama saya,” ujarnya. Namun, kepergian sang ibu justru memperkuat tekadnya untuk terus melangkah.
Ia menyelesaikan hafalan penuh pada liburan pondok tahun 2022, setelah tiga tahun fokus pasca-lulus sekolah. Selama sekolah, Sefia lebih memprioritaskan belajar, dan baru benar-benar produktif menghafal setelah lulus. Metode yang ia gunakan adalah menghafal per-blok, mirip dengan yang ditampilkan di serial qur’an Al-Hufaz: membagi hafalan menjadi bagian-bagian kecil, seperti setengah halaman per sesi.
Tantangan terberat jelas adalah kehilangan ibu. Namun, Sefia memilih fokus pada tujuan akhir. Untuk melawan rasa malas, ia membuat target harian dalam bentuk ceklis—alat sederhana yang justru sangat ampuh menjaga konsistensi.
Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika ia sempat tumbang karena hinaan orang, tapi bangkit kembali dengan semangat lebih kuat. “Itu jadi bukti kalau saya bisa,” katanya.

Setelah khatam, Sefia tetap menjaga hafalannya dengan murojaah. Ia masih membaca binadhor (sambil melihat mushaf), membuka-tutup Al-Qur’an, namun terus berusaha istiqomah. Saat sampai di ayat terakhir, ia menangis haru—bahkan sampai lupa membawa ponselnya karena terlalu larut dalam kebahagiaan.
Kunci utamanya sederhana: buat ceklis sebagai acuan harian. Bagi pembaca, Sefia berpesan, “Jangan cepat puas dengan pencapaian saat ini. Kalau bisa, terus tingkatkan.Kita sebaiknya tidak menunda menderes. Saat masih sekolah, mungkin masih ada fleksibilitas untuk menunda, tetapi ketika sudah menjadi pengurus, hal itu justru bisa menimbulkan masalah. Misalnya, kita berencana menderes pagi hari lalu memutuskan menundanya hingga sore. Namun, ternyata di sore hari muncul urusan mendesak atau kendala tak terduga yang menghalangi kita menyelesaikan tugas tersebut. Oleh karena itu, manfaatkan waktu yang tersedia sebaik-baiknya dan segera menderes tanpa menunda.”

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada madrasah yang telah membimbingnya hingga sejauh ini. “Terima kasih sudah membawa saya sejauh ini,” ucapnya penuh syukur.
Kisah Sefia mengingatkan kita: di balik setiap hafalan yang utuh, ada air mata, perjuangan, dan prinsip yang tak mudah goyah.
Oleh Tim Redaksi: Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA