Indah Tri Damayanti,Santri Yang Menuntaskan Hafalan Al-Qur’an :”Kalau Kita Bilang Ada Waktu,Maka Akan Ada Waktu”.

Mojokerto, 22 November 2025 —Indah Tri Damayanti , menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada usia muda, santri yang kini menjadi inspirasi bagi banyak pelajar karena ketekunannya dalam menghafal kitab suci umat Islam tersebut. Berbekal dukungan keluarga dan lingkungan pesantren, Indah berhasil meraih impian besar yang awalnya ia sendiri ragukan.

Indah Tri Damayanti adalah seorang santri perempuan asal Brebek Raya no.26 yang kini dikenal sebagai hafizah. Ia menuntaskan hafalannya pada 23 Januari 2023, setelah menjalani proses panjang selama 7 tahun. Perjalanan spiritualnya dimulai sejak pertengahan kelas 8 SMP, dan kini menjadi bukti nyata bahwa tekad, disiplin, dan doa dapat menggerakkan hati.

Indah berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an, sebuah pencapaian luar biasa yang hanya bisa diraih oleh sedikit orang. Ia tidak hanya menghafal, tetapi juga menjaga hafalannya melalui rutinitas muraja’ah (mengulang hafalan) yang disiplin serta aktif dalam kegiatan khataman bersama di organisasi .

Proses hafalan dimulai pada pertengahan kelas 8 SMP dan berakhir secara resmi pada 23 Januari 2023, saat ia mengikuti wisuda dan tasmi’—momen paling berkesan baginya. Di hari itu, Indah merasakan campuran emosi: sedih karena tanggung jawab ke depan lebih berat, namun senang karena tak menyangka dirinya mampu menyelesaikan tantangan besar ini.

Indah menjalani proses hafalan di lingkungan pesantren yang ia sebut sebagai “tempat yang membentuknya”. Ia sangat berterima kasih kepada YAMISAS  dan pondok tempat ia menimba ilmu. Menurutnya, di sanalah ia belajar nilai-nilai seperti tawadu’—kerendahan hati yang sesungguhnya bukan hanya tentang memberi, tetapi juga diam terhadap kejelekan guru.

Awalnya, Indah tidak memiliki niat kuat untuk menghafal Al-Qur’an. Namun, dorongan dariorang tua dan Bu nyai  perlahan mengubah pandangannya. Ia mulai melihat hafalan Al-Qur’an sebagai tantangan pribadi—bukan hanya untuk membuktikan pada orang tua, tapi juga pada dirinya sendiri bahwa ia mampu.

Indah memiliki disiplin waktu yang tinggi. Ia menyusun jadwal pribadi: setelah Isya’ hingga pukul 21.00 untuk belajar, dan setelah Subuh untuk nderes . Metode hafalannya sederhana namun efektif: membaca dengan melihat mushaf (binnadhor) sebanyak 5 kali, lalu menghafal per ayat.

Setelah khatam, ia bisa mengulang 1 hingga 2 juz per hari, bahkan hingga 4 juz jika sedang dalam kondisi semangat. Kunci utama istiqamahnya adalah muraja’ah rutin: subuh untuk juz awal, malam untuk juz 21 ke atas. Ia juga aktif dalam kegiatan khataman Jumat dan muraja’ah bersama organisasi.

Pesan untuk Generasi Muda

Indah memberikan pesan yang sangat relevan bagi remaja masa kini:
“Kalau kita bilang sibuk, bakal sibuk beneran. Tapi kalau kita bilang ada waktu, maka akan ada waktu. Pokoknya, gunakan waktu sebaik mungkin.”

Ia menutup wawancara dengan ungkapan syukur dan kebanggaan terhadap madrasah dan pesantren yang telah membimbingnya:
“The best pokoknya! Terima kasih YAMISAS dan pondok yang membawa saya sampai sejauh ini.”

Kisah Indah Tri Damayanti membuktikan bahwa komitmen, dukungan keluarga, dan lingkungan yang kondusif dapat membentuk pribadi luar biasa. Ia bukan hanya seorang hafizah, tapi juga panutan yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar hafalan—tapi jalan hidup.

Semoga kisahnya menginspirasi lebih banyak santri dan pelajar untuk menggunakan waktu dengan bijak, menantang diri sendiri, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam setiap langkah kehidupan.

Oleh Tim Redaksi :Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *