Mojokerto,16 Maret 2026-Diana Elsafitri, siswi Madrasah Aliyah TRENDIS Salafiyah Syafi’iyah, berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada 13 Januari 2026 saat masih duduk di kelas 12 MA. Siswi yang berasal dari Kedamean, Gresik ini memulai perjalanan menghafal sejak kelas 8 Madrasah Tsanawiyah (MTs). Keberhasilannya menjadi penghafal Al-Qur’an tidak lepas dari motivasi keluarga serta kerja kerasnya dalam menjaga konsistensi hafalan di tengah aktivitas belajar di sekolah.
Keberhasilan Elsa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan keluarga. Ia mengungkapkan bahwa motivasi awal untuk menghafal Al-Qur’an datang dari orang tuanya. Selain karena dorongan orang tua, Elsa juga ingin memenuhi harapan keluarga yang menginginkan dirinya menjadi satu-satunya cucu yang mampu menjadi penghafal Al-Qur’an. Harapan tersebut kemudian menjadi semangat bagi Elsa untuk memulai dan menuntaskan hafalannya.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang ditempuh Diana berlangsung selama beberapa tahun. Ia memulai proses tersebut ketika masih duduk di kelas 8 MTs. Sejak saat itu, ia terus berusaha menambah hafalan secara bertahap hingga akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh hafalan pada 13 Januari 2026 ketika sudah berada di kelas 12 MA.
Dalam prosesnya, dukungan keluarga memegang peranan penting. Diana menyebutkan bahwa orang tua dan kakaknya merupakan sosok yang paling berperan dalam mendukungnya selama menghafal Al-Qur’an. Dukungan tersebut tidak hanya berupa motivasi, tetapi juga semangat agar ia tetap istiqamah dalam menjalani proses yang panjang dan tidak mudah.
Di tengah kesibukan sebagai seorang pelajar, Elsa harus mampu membagi waktu antara kegiatan belajar dan menghafal Al-Qur’an. Ia mengaku bahwa aktivitas di sekolah berjalan seperti biasa, seperti belajar, beristirahat, atau bercengkerama dengan teman-teman. Namun, ketika memasuki jam tahfidz di sekolah, ia berusaha memfokuskan diri sepenuhnya untuk menambah dan mengulang hafalan.
Metode yang digunakan Elsa dalam menghafal juga cukup sederhana namun efektif. Ia biasanya mencoba menghafal langsung satu halaman Al-Qur’an jika merasa mampu. Namun, jika dirasa sulit, ia memilih menghafal secara bertahap, yaitu per ayat. Selain itu, ia juga memanfaatkan waktu tahfidz di sekolah untuk memperbanyak murajaah atau mengulang hafalan agar tetap kuat dan tidak mudah lupa.
Meski terlihat lancar, perjalanan menghafal Al-Qur’an tentu tidak selalu berjalan mulus. Elsa mengaku pernah menghadapi tantangan berat selama proses tersebut. Salah satu tantangan terbesar yang pernah ia alami adalah ketika harus menghadapi duka karena ditinggal neneknya yang meninggal dunia. Peristiwa tersebut sempat memengaruhi kondisi emosionalnya, namun ia berusaha tetap melanjutkan proses hafalan dengan penuh kesabaran.
Selain menghadapi ujian duka, tantangan lain yang kerap muncul adalah rasa malas. Untuk mengatasi hal tersebut, Diana berusaha menjaga suasana hati agar tetap baik. Menurutnya, menjaga mood sangat berpengaruh terhadap semangat dalam menghafal. Dengan suasana hati yang baik, ia merasa lebih mudah untuk kembali fokus pada hafalan.
Selama proses menghafal Al-Qur’an, banyak momen berkesan yang dialami Elsa. Salah satu yang paling ia ingat adalah saat acara wisuda tahfidz. Pada momen tersebut, ia merasa sangat terharu karena tiba-tiba mendapatkan hadiah dari saudara dan kakaknya. Kejutan tersebut menjadi bentuk apresiasi dari keluarga atas perjuangan panjang yang telah ia lalui.
Perasaan haru juga sangat terasa ketika Elsa sampai pada ayat terakhir dari hafalannya. Ia mengaku merasa sangat gugup dan deg-degan ketika bertemu dengan orang tuanya. Suasana menjadi semakin emosional ketika ia menangis karena terharu dan dipeluk oleh bunyai. Tidak hanya itu, ia juga mendapatkan kejutan dari kakak iparnya yang semakin menambah kebahagiaan pada momen tersebut.
Meski telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, Elsa menyadari bahwa menjaga hafalan merupakan tantangan tersendiri. Oleh karena itu, ia berusaha terus meluangkan waktu untuk nderes atau membaca ulang hafalan di waktu luang. Ia biasanya melakukan hal tersebut saat berada di sekolah maupun ketika berada di pondok.
Bagi Elsa, menghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang mencapai target khatam, tetapi juga tentang bagaimana menjaga dan mengamalkan hafalan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap hafalan yang telah diperolehnya dapat terus terjaga dan memberikan manfaat bagi dirinya serta orang-orang di sekitarnya.
Di akhir wawancara, Diana juga menyampaikan pesan kepada para pembaca, khususnya para pelajar yang memiliki keinginan untuk menghafal Al-Qur’an. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang termotivasi untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Menurutnya, belajar di pondok pesantren tahfidzul Qur’an dapat menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Kisah perjuangan Diana Elsafitri menjadi bukti bahwa dengan niat yang kuat, dukungan keluarga, serta ketekunan dalam menjaga konsistensi, menghafal Al-Qur’an bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Perjalanannya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak pelajar lain untuk terus berusaha mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Oleh Tim Redaksi : Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA