Mojokerto 22 Januari 2026-Aula pesantren yang biasanya sunyi di hari Kamis pagi, 22 Januari 2026, berubah menjadi ruang ilmu yang penuh semangat. Ratusan santri Aliyah duduk khidmat mengikuti Safari Dakwah Al-Azhar Kairo, sebuah kegiatan inspiratif yang menghadirkan langsung narasumber dari salah satu universitas Islam tertua dan paling prestisius di dunia, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam ini diselenggarakan di aula utama Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Klinterejo. Safari Dakwah ini bukanlah program resmi Universitas Al-Azhar, melainkan inisiatif pribadi, sebagai bentuk dakwah dan berbagi pengalaman akademik kepada generasi muda.
Acara diawali dengan nasyid/paduan suara dari grup Al Hamra yang membuka kegiatan dengan suasana religius dan penuh kekhidmatan. Selanjutnya, acara resmi dibuka oleh Mudhir Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Klinterejo, Agus Haji Afif Zubaidy, S.Pd., M.Ag.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh KH. Masduqi Yunus, B.A., memohon keberkahan dan kemanfaatan ilmu bagi seluruh peserta.
Memasuki acara inti, santri menyimak pemaparan materi dari Prof. Dr. Shalah Mahmoed Ahmed Al-Bajouri, Wakil Dekan Fakultas Dakwah Universitas Al-Azhar sekaligus Guru Besar Ilmu Perbandingan Agama dan mazhab. Penyampaian materi dimoderatori oleh Ustadz Muhammad Reza Adityas, mahasiswa Fakultas Dakwah Al-Azhar asal Depok, yang juga bertindak sebagai penerjemah.
Kehadiran keduanya memberikan peluang dan gambaran bagi generasi muda Indonesia yang ingin menembus gerbang Al-Azhar.
Dalam materinya, Prof. Shalah Mahmoed menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban agama.
“Orang yang keluar rumah untuk mencari ilmu, maka kebaikannya akan menyertainya hingga ia kembali,”
ujar beliau, mengutip hadis Nabi. Ia menekankan bahwa Al-Azhar bukan sekadar tempat belajar, melainkan laboratorium akhlak, pemikiran, dan pelayanan umat.
Ketua panitia kegiatan, Ibu Sri Rahayu Winaningsih, S.Sos., menjelaskan bahwa Safari Dakwah ini bertujuan memberikan wawasan global kepada santri Aliyah, khususnya tentang peluang studi lanjut di luar negeri.
“Mereka tidak mewakili institusi Al-Azhar secara formal, tetapi ini adalah bentuk dakwah personal untuk berbagi informasi dan membuka jalan bagi generasi muda,” ujarnya.
Ia menambahkan,
“Kami ingin santri tidak stuck hanya di dalam negeri. Al-Azhar bisa menjadi salah satu referensi nyata untuk studi lanjut yang berkualitas dan berakar pada nilai Islam wasathiyah (moderat).”
Dalam sesi tanya jawab, antusiasme santri terlihat jelas. Prof. Shalah Mahmoed menjelaskan peran Al-Azhar dalam mencetak generasi yang berdaya saing tinggi, rendah hati, luwes, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Ia juga menyampaikan empat nasihat penting kepada para santri:
-
Berpegang teguh dan terus mencari ilmu yang bermanfaat.
-
Fokus pada Al-Qur’an: bacaan, hafalan, pemahaman, dan pengamalan.
-
Memahami kebutuhan umat di era digital dan memberikan solusi terbaik.
-
Menjadi teladan di mana pun berada—di pesantren, di rumah, dan kelak dalam keluarga.
Sebagai penutup, doa kembali dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Shalah Mahmoed Ahmed Al-Bajouri, menandai berakhirnya rangkaian Safari Dakwah dengan suasana haru dan penuh harapan.
Ibu Wina berharap kegiatan ini memberikan dampak jangka panjang, mulai dari terbukanya jalur komunikasi antara pesantren dan Al-Azhar hingga tumbuhnya keberanian santri untuk bermimpi besar.
Safari Dakwah Al-Azhar Kairo bukan sekadar seminar biasa. Ia menjadi buka wawasan global pintu pembelajaran bagi santri tanpa mencabut akar spiritual mereka. Di tengah arus globalisasi, Al-Azhar hadir bukan sebagai simbol eksklusivitas, melainkan sebagai rumah ilmu yang mempersatukan akal, hati, dan amal. Dan siapa tahu, di antara santri yang hari ini duduk di aula itu, kelak akan lahir mahasiswa Al-Azhar yang membawa cahaya ilmu kembali ke Nusantara.
Oleh Tim Redaksi : Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA