Kreasi Kolase Biji Mileti Sederhana yang Menyimpan Nilai Jual dan Bekal Masa Depan..

Mojokerto, 22 November 2025 — Di tengah derasnya arus digitalisasi, pembelajaran keterampilan tangan seperti seni kolase justru menjadi wadah penting bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus melatih kesabaran dan ketelitian. Di MA ini, Ibu Eni Mufarridah, S.E., seorang guru berpengalaman selama 20 tahun (sejak 2005 hingga 2025), membuktikan bahwa seni kolase bukan hanya aktivitas menyenangkan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.

Pembelajaran kolase yang diajarkan Ibu Eni menggunakan bahan unik: biji milet, yang biasanya digunakan sebagai pakan burung. Biji-biji kecil ini dipilih karena bentuknya yang mungil dan mudah ditempel pada permukaan kertas atau kanvas. Siswa mulai dengan menggambar pola terlebih dahulu, lalu menempelkan biji milet sedikit demi sedikit sesuai pola tersebut. Setelah itu, karya bisa diwarnai agar lebih menarik secara visual.

Inisiator dan pengajar utama dalam kegiatan ini adalah Ibu Eni Mufarridah, S.E., yang telah mengabdi di dunia pendidikan selama dua dekade. Meski latar belakang akademisnya di bidang ekonomi, ia sangat antusias mengembangkan keterampilan seni dan kewirausahaan bagi siswa

Pembelajaran kolase telah menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler maupun pembelajaran muatan lokal di sekolah sejak bertahun-tahun lalu, dan terus dikembangkan hingga tahun ini, 2025.

Kegiatan ini dilakukan di ruang kelas  sekolah. Uniknya, seluruh proses — mulai dari pembuatan karya hingga pembuatan pigora — dilakukan oleh siswa sendiri. Mereka memotong kayu, mengamplas, menghaluskan, hingga memasang kaca sebagai pelindung karya.

Menurut Ibu Eni, tujuan utama mengajarkan kolase bukan hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti kesabaran, ketelitian, dan kreativitas. “Kolase ini juga punya nilai jual,” ujarnya. “Kalau siswa mau, karyanya bisa dijual dan menghasilkan pendapatan.”

Lebih dari itu, pembelajaran ini ternyata memiliki manfaat tidak terduga: menggali potensi tersembunyi siswa. Ada yang ternyata pandai menggambar, ada yang sangat ulet dalam menempelkan biji satu per satu, dan meski ada pula yang awalnya malas, pada akhirnya terlibat karena suasana kelas yang menyenangkan dan penuh dukungan.

Teknik kolase yang diajarkan sangat sederhana:
1. Siswa menggambar pola di atas kertas tebal.
2. Mengoleskan lem pada area yang ingin ditempeli biji milet.
3. Menempelkan biji yang telah diwarnai sedikit demi sedikit sesuai pola.
4. Terakhir, siswa membuat pigora sendiri — dari memotong kayu hingga memasang kaca.

Kendala utama yang dihadapi adalah dalam pembuatan pigora. Namun, Ibu Eni mengatasi hal ini dengan memberikan pendampingan dan mengajarkan cara kerja yang aman serta sistematis.

Siswa memberikan respon sangat positif terhadap kegiatan ini. Mereka merasa senang karena bisa menciptakan karya yang unik dan personal. Selain itu, kegiatan ini juga melatih motorik halus, keterampilan tangan, serta melatih kesabaran — hal yang semakin langka di era serba instan.

Ibu Eni menekankan pentingnya mengembangkan keterampilan seperti ini sejak dini. “Jangan anggap remeh keterampilan tangan. Saat lulus nanti, ini bisa jadi bekal untuk membuka usaha,” katanya. Ia mendorong siswa yang memiliki minat di bidang seni untuk terus berkarya dan berani memasarkan hasil karyanya.

Bagi yang ingin menjadikan kolase sebagai peluang usaha, kuncinya adalah konsistensi dan kreativitas. “Kalau mau, pasti bisa. Karya kolase ini bisa dijual, apalagi kala unik dan dikerjakan dengan hati,” tambahnya.

Pembelajaran kolase di bawah bimbingan Ibu Eni Mufarridah bukan hanya soal menempel biji-bijian ke kertas. Ini adalah proses mengasah karakter, mengasah jiwa wirausaha, dan menghidupkan kreativitas siswa. Dari hal kecil seperti biji milet, lahir karya besar yang penuh makna — dan siapa tahu, dari tangan-tangan muda ini, lahir wirausahawan muda di bidang seni.

Oleh Tim Redaksi:Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *