Mojokerto, 22 November 2025-Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat, ada sosok santri asal Dukuhdimoro, Mojoagung, yang membuktikan bahwa ketekunan dan niat tulus mampu membuka jalan terberat sekalipun. Dialah Hanum Maulidia Arif, alumni pesantren yang berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz setelah perjalanan panjang selama tujuh tahun, dari 2016 hingga 2023. Perjalanan spiritual dan intelektualnya menjadi kisah inspiratif yang layak diteladani.
Hanum adalah seorang santri yang berhasil menghafal seluruh isi Al-Qur’an. Ia menjalani proses tahfiz dengan metode sederhana namun konsisten:menghafal setengah halaman dalam satu kali duduk, lalu menyelesaikan satu halaman penuh dalam sehari. Setelah khatam, ia terus menjaga hafalannya dengan muroja’ah minimal 3 hingga 5 juz setiap hari, terutama setelah sholat.
Hanum Maulidia Arif, putri dari keluarga sederhana di Penanggalan, Dukuhdimoro, Mojoagung.Ia memiliki tekad luar biasa. Motivasi awalnya murni berasal dari keinginan pribadi, dan didukung penuh oleh orang tuanya yang selalu mendoakan dan memberi semangat.
Perjalanan Hanum dimulai pada 2016, ketika ia memutuskan untuk masuk pesantren tahfiz. Namun, jalan tak mulus: ia gagal dalam tiga kali tes masuk. Baru pada tes keempat di Bunyai, ia akhirnya diterima. Proses hafalan berlangsung selama tujuh tahun, dan ia resmi khatam pada 2023—sebuah pencapaian yang membuatnya menangis haru saat sampai di ayat terakhir.
Hanum menempuh pendidikan tahfiz di sebuah madrasah pesantren, yang menurutnya menjadi “tempat tumbuh dan berkembang”. Setelah lulus (boyong), ia tetap melanjutkan komitmennya meski kini di rumah dengan segala kesibukan rumah dan tugas sehari-hari.
Motivasi utama Hanum adalah keinginan pribadi untuk dekat dengan Al-Qur’an. Ia percaya bahwa Al-Qur’an bukan hanya hafalan, tapi pegangan hidup. Ketika menghadapi tantangan—baik sakit maupun konflik dengan teman—ia justru memperkuat ibadahnya. “Mungkin Allah mendatangkan masalah karena kurang ibadah,” katanya. Baginya, masalah adalah ujian yang akan selesai jika hati tetap bersandar pada-Nya.
Hanum memiliki cara unik membagi waktu:
Setiap selesai sholat, ia menyisihkan waktu sebentar untuk “nderes” (mengulang hafalan).
Fokus utama hafalan dilakukan setelah sholat malam, terutama saat ada PR atau tugas yang mendorongnya untuk disiplin.
Untuk menjaga konsistensi, ia sering bertanya pada dirinya sendiri: “Sampai kapan malas terus? Ingat masa depan. Ingat waktu terus berjalan.”
Meski setelah lulus sempat kesulitan menjaga target karena banyak pekerjaan rumah, ia tetap berusaha muroja’ah minimal 3 juz per hari.
Saat mencapai ayat terakhir Al-Qur’an, Hanum menangis. Ia teringat perjuangannya yang tak mudah—terutama kegagalan tiga kali dalam tes masuk pesantren. “Alhamdulillah, akhirnya lulus di tes terakhir,” ujarnya penuh syukur.
Kepada para pembaca, Hanum berpesan:
“Kalau punya keinginan, pacu terus. Jangan biarkan rasa malas menghentikan langkah. Menghafal itu pilihan sendiri—penyesalan justru datang di akhir jika kita berhenti di tengah jalan.”
Untuk madrasah yang pernah menaungi perjalanannya, ia menyampaikan rasa terima kasih:
“Terima kasih telah menjadi tempat saya tumbuh dan berkembang. Semoga ke depan bisa mencetak lebih banyak santri yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tapi juga berakhlak mulia.”
Kisah Hanum Maulidia Arif mengingatkan kita bahwa keberhasilan lahir dari konsistensi, doa, dan keyakinan. Ia membuktikan bahwa jalan menuju Al-Qur’an tak selalu mulus, tapi setiap langkah yang dijalani dengan ikhlas akan berbuah manis di waktu yang tepat. Bagi para pelajar, santri, atau siapa pun yang sedang berjuang—kisah Hanum adalah bukti nyata: jangan menyerah, karena penyesalan sesungguhnya bukan gagal, tapi berhenti mencoba.
Oleh Tim Redaksi:Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA.