30 Juz Bukan Mimpi: Alfina Dwi Yanti,Cerita Santri Penuh Inspirasi

Mojokerto 24 Januari 2026- usai membaca ayat terakhir dari surah An-Nas, air mata mengalir tanpa bisa dicegah. Bukan karena sedih, tapi karena campuran syukur, lega, dan tak percaya—bahwa setelah enam tahun berjuang, akhirnya ia benar-benar khatam. Itulah yang dirasakan Alfina Dwi Yanti, santri asal Surodinawan, Mojokerto, yang resmi menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada Juni 2024. Kini mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga ini membuktikan bahwa menjadi hafizah bukan soal kecepatan, melainkan konsistensi, niat tulus, dan kemampuan menerima diri sendiri.

Alfina menyelesaikan hafalan Al-Qur’an penuh setelah memulai perjalanannya sejak kelas 8 SMP pada tahun 2018. Ia mengikuti program tahfiz—yang menurutnya merupakan program kedua atau ketiga di madrasah—dengan penuh kerendahan hati. “Saya nggak termasuk yang cepat atau unggul di tahfiz,” ujarnya jujur. Namun, justru sikap realistis itulah yang membuatnya bertahan hingga garis finish.

Bagi Alfina, orang tua adalah pilar utama—baik secara materi maupun emosional. Mereka tidak hanya membiayai proses belajarnya, tapi juga menjadi tempat curhat saat semangat mulai redup. Selain itu, guru-guru tahfiz, teman-teman seperjuangan, dan lingkungan sekitar turut membentuk ekosistem yang mendukung perjalanannya. “Tanpa mereka, saya mungkin sudah berhenti di tengah jalan,” katanya.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika almahrumah Bu Tatik, gurunya, memuji perkembangan mengajinya beberapa bulan sebelum wafat. “Itu jadi penyemangat luar biasa. Rasanya seperti dikatakan, ‘Kamu di jalan yang benar,’” kenangnya haru.

Perjalanan Alfina dimulai di kampung halamannya, Surodinawan, Mojokerto, lalu berlanjut hingga ia kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Meski jauh dari pondok, ia tetap menjaga hafalan dengan bergabung dalam UKM tahfiz di kampus dan sengaja mencari lingkungan yang mirip dengan suasana pesantren. “Saya butuh atmosfer yang mengingatkan saya pada komitmen ini,” ujarnya.

Awalnya, motivasi Alfina berasal dari keinginan orang tua dan ketersediaan akses ke program tahfiz berkualitas. Namun seiring waktu, ia menemukan makna pribadi: “Ini jadi kewajiban yang harus diselesaikan. Niat awal mungkin dari luar, tapi jalan sampai akhir harus dari dalam.”

Metode hafalannya unik: ia membagi satu halaman menjadi tiga bagian, lalu mengulang-ulang sambil membaca artinya agar memahami alur cerita. “Kalau ngerti maknanya, hafalan lebih melekat dan nggak cepat lupa,” jelasnya.

Untuk manajemen waktu, Alfina justru menjadikan belajar pelajaran umum sebagai hiburan saat stres menghafal. “Karena saya nggak terlalu berprestasi di tahfiz, belajar akademik jadi pelarian yang sehat,” katanya sambil tertawa. Ia juga sangat memprioritaskan deadline, sehingga tetap terstruktur meski sibuk.

Tantangan terbesarnya? Sering merasa down setelah ujian tahfiz terbuka, terutama karena terbiasa mendapat nilai bagus di akademik. “Di tahfiz, saya sering dapat nilai biasa saja. Awalnya patah semangat,” akunya. Untuk mengatasinya, ia curhat ke orang tua dan berbagi cerita dengan teman senasib. “Ternyata, banyak yang merasa sama. Itu bikin saya nggak merasa sendirian.”

Menurut Alfina, niat dan tujuan akhir adalah kunci utama istiqomah. “Namanya kewajiban, harus diselesaikan. Ingat, ini bukan lomba,” tegasnya.

Ia juga punya pesan hangat untuk pembaca:
“Walaupun nggak bisa unggul dalam hafalan, tetap sabar dan konsisten. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Struggle setiap orang beda. Jangan minder—karena kamu sedang berjuang dengan caramu sendiri.”

Untuk madrasah, ia berharap:
“Semoga ke depan tidak hanya menekankan kualitas siswa secara akademis atau hafalan, tapi juga lebih memahami kemampuan dan kondisi masing-masing siswa.

Air mata Alfina di ayat terakhir bukan tanda kelemahan, tapi bukti cinta, perjuangan, dan kerendahan hati. Kisahnya mengingatkan kita: menjadi hafizah bukan tentang sempurna, tapi tentang terus melangkah meski lambat. Dan di dunia yang serba cepat ini, mungkin kita semua butuh sedikit “lambat” seperti Alfina—untuk benar-benar menyatu dengan firman-Nya.

Oleh Tim Redaksi : Nabila Hans XI MIPA dan Aisyah N XI MIPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *